Senin, 15 November 2010

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN APPENDIKSITIS


ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN
DENGAN APPENDIKSITIS

1.      Konsep Teori
Pengertian
-          Apendiksitis adalah suatu peradangan dari apendiks vermiformis akut yang merupakan jenis yang umum dari abdomen akut dan umumnya dikarenakan oleh adanya sumbatan pada lemen apendiks (Arif Manjoer. 2000 ; 307).
-          Apendiksitis adalah suatu kasus gawat bedah abdomen yang paling sering terjadi dikarenakan oleh adanya situasi obstruksi lumen yang diikuti dengan infeksi bakteri (Soeparman, 1999 : 177).
Etiologi
Menurut Soeparman (1999 : 177) Penyebab timbulnya apendiksitis adalah obstruksi atau penyumbatan yang disebabkan oleh :
1)      Hiperplasia dari folikel limfoid.
2)      Adanya fekolid dari lumen apendiks.
3)      Adanya benda asing seperti cacing.
4)      Strinktur akurena fibrosis akibat peradangan sebelumnya.
5)      Karena sebab lain, misalnya : keganasan : karsinoma.
Patofisiologis
Menurut Arif Manjoer (2000 : 307) Proses terajdinya apendiksitis sebagai berikut :
Obstruksi Menyebabkan Mukosa Apendiks Terbendung

             Menekan Dinding Apendik                      Ferikulasi pada Bakteri

             Mengganggu Aliran Limfe                                    Nanah
                                  
              Dinding Apendik Odema                       Aliran Limfe Terganggu

             Merangsang Tunika Serosa         Radang nukol dan mengenai Peritonium
                                  
                          Rasa Nyeri                                Rasa Nyeri Kanan Bawah.



Tanda dan Gejala
a.         Menurut Soeparman (1999 : 177)
1)      Nyeri perut kanan
2)      Anoreksia
3)      Panas badan
4)      Mual muntah
5)      Nyeri tekan daerah apendiks.
6)      Pada anak – anak perlu dibedakan dengan simple akut gastritis edinitis kelenjar mesentum dan limfaginasi pada vaginasi terdapat demam dan terdapat daerah vektal toucher.
7)      Pada laki – laki dewasa perlu dibedakan dengan batu ginjal/ batu ureter kanan, hidro nefritis, enteritis regional akut, kuagulasi testis kanan, epididi,is kanan.
8)      Pada wanita perlu dipikirkan salpingitis fisitel rupturgraf kanan (biasanya terjadi pada pertengahan menstruasi) piulitis pada wanita hamil, degenerasi merah dan mioma uteri.
9)      Pada orang tua perlu dipikirkan perforasi ulkusduodenum kalosistis dari ovari dari ruptur neovisma aorta abdominalis.
b.         Menurut Arif Manjoer (2000 : 307)
Keluhan Apendiksitis biasanya bermula dari nyeri didaerah umbilikus atau peri umbilikus yang berhubungan dengan muntah. Dalam 2 – 12 jam nyeri akan beralih ke kuadran kanan bawah, yang akan menetap dan diperberat bila berjalan atau batuk. Nyeri abdomen kanan bawah akan semakin progresif dalam beberapa jam dan dengan pemeriksaan seksama akan dapat ditunjukkan dsatu titik dengan nyeri maksimal.

Komplikasi
Menurut Arif Manjoer (2000 : 307)
1)      Peritonitis umum
2)      Abses apendiks.
3)      Tromboplebitis supuratif.
4)      Abses subfrenitus dan fokal sepsis intraabdominal lain.

Pemeriksaan Penunjang
Menurut Arief Manjoer (2000 : 307) pemeriksaan penunjang yang dilakukan meliputi:
1)      Pemeriksaan Laboratorium
§  Pemeriksaan darah : akan terjadi leokositosis ringan (10.000 – 20.000/ml) dengan peningkatan jumlah netrofil
§  Pemeriksaan urine : pemeriksaan ini diperlukan untuk membedakannya dengan kelainan pada ginjal dan saluran kemih. Sedimen dapat normal atau terdapat leokosit dan eritrosit lebih dari normal bila apendiks meradang, menempel pada ureter atau versikal
2)      Pemeriksaan radiologis
Pada kasus akut tidak diperbolehkan melakukan barium enema, sedangkan pada apendik sitis kronis tindakan ini dibenarkan. Pemeriksaan USG dilakukan bila telah terjadi infiltrat apendikularis. Patoknomik bila terlihat gambaran fekalit. Foto polos abdomen dikerjakan apabila dari hasil pemeriksaan riwayat sakit dan pemeriksaan fisik meragukan.

Diagnosa Banding
1)      Gastroentritis akut.
2)      Adenitis Mesenterikum.
3)      Divertikulitis Meckoti
4)      Enteritis regional, amugiasis, ileitis akut, perfusi ulkus deodem, kolik uteri, salpingitis akut, kehamilan ektopik etrganggu, dan kista ovari
(Arif Manjoer, 2000 : 307)

Penatalaksanaan
Pada pasien apendiksitis dapat dilakukan tindakan secara operatif dan konservaif :
1)      Operatif
Dilakukan tindakan apendiktomy
a.       Intervensi pra bedah
Menurut Barbara Engram (1999 : 732)
Interfensi para bedah yang akan dibuat dan dilaksanakan :
1.      Kaji pemahaman prosedur operasi dan hasilnya dengan menggunakan pernyataan sederhana.
2.      Pemeriksaan fisik berdasarkan surve umum untuk membuat nilai-nilai dasar.
3.      Kaji perasaan pasien dan masalah tentang pembedahan yang menggunakan pernyataan sederhana.
4.      Periksa hasil pemeriksaan laboratorium pra operasi.
5.      Beri kebebasan pemilihan pelayanan sebelum menandatangani inforamed consent, perawat memberi peluang kepada proses yang harus menjamin surat persetujuan ditandatangani pra operasi.
6.      Puasakan setelah tengah malam untuk menurunkan resiko muntah dan aspirasi saat dianastesi.
7.      Bersihkan kulit dengan hati-hati
8.      Kenalkan pada pasien tentang bedah dan respon psikologis.
9.      Obat-obatan pra anastesi diberikan untuk mengurangi cemas, mempertahankan keadaan darurat anastesi, menurangi sekresi dan mencegah gradikarat.
b.       Intervensi pasca bedah
Menurut Barbara Engram (1999 : 789)
1.       Observasi tanda-tanda vital untuk mengetahui terajdinya perdarahan di dalam, syok hipertermi dan gangguan pernafasan.
2.       Kaji tingkat kesadaran
3.       Auskultasi bunyi nafas
4.       Kaji kulit
§ Warna, bengkak, suhu (hangat, kering, dingin, lembab)
5.       Inspeksi status balutan
6.       Kaji terhadap nyeri / mual
7.       Kaji status alat intrusive
§ Infus IV
§ Alat drainase luka
§ Kateter foley
§ Selang NG untuk penghisapan
8.        Periksa laporan ruang pemulihan
9.       Evaluasi kembalinya refleks gag
10.   Periksa laporan operasi terhadap tipe anastesi yang diberikan dan lamanya waktu di bawah anastesi
11.   Pertahankan kenyamanan dan keamanan
§ Pencegahan cedera
§ Mengusahakan kenyamanan fisik
§ Mengusahakan kenyamanan fisiologis
2)      Konservatif
Mengurangi atau mencegah terjadinya komplikasi, misalnya dengan memberikan penatalaksanaan seperti dalam peritonitis akut. Dengan demikian, gejala apendiksitis akut akan mereda.

2.      Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
Pengkajian
                                    Identitas
Penyakit ini dapat menyerang semua jenis kelamin baik laki-laki maupun perempuan, dan semua umur tetapi yang tersering menyerang laki – laki berumur antara 10 sampai 30 tahun.

                                    Keluhan Utama
Nyeri

                                    Riwayat Penyakit Sekarang
Nyeri pada perut kanan bawah, nyeri seperti teriris, kualitas nyeri intermitten.

                                    Riwayat Penyakit Dahulu
Cadangan karsinoma dapat merupakan faktor predisposisi terjadinya apendiksitis, klien menderita hipertensi ataupun militus dapat mengalami keterlambatan penyembuhan luka post apendiktomy.

                                    Riwayat Penyakit Keluarga
Apakah klien mempunyai penyakit diabetes militus dan hipertensi.

Pemeriksaan Fisik
1)      Sirkulasi            :  adanya takikardi (Nadi > 100 x/menit)
2)      Filminasi           :  konstipasi radang diare, perut kembung, bising usus berkurang/ tidak ada, distansi abdomen, nyeri tekan kekakuan.
3)      Nutrisi               : mual muntah
4)      Kenyamanan     : nyeri didaerah abdomen, epigastrion dan umbilikalis.
5)      Panas                : panas
6)      Pernafasan        :  tacypnea, pernafasan dangkal.

                        Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Terjadi
  1. Nyeri berhubungan dengan faktor pembedahan.
  2. Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan faktor pembedahan.

  1. Kurang perawatan diri yang berhubungan dengan faktor keterbatasan mobilitas skunder terhadap pembedahan.
  2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan pembatasan pemasukan cairan, hilangnya cairan tubuh secara tidak normal seperti nel kateter dan lain – lain.

                        Intervensi Keperawatan
1)      Diagnosa Keperawatan I
Tujuan                         : Nyeri berkurang/ hilang
Kriteria hasil    : Melaporkan nyeri hilang/ terkontrol, tampak rileks, mampu tidur/ istirahat dengan tepat.
Intervensi        :
·         Pantau : tensi, nadi dan pernafasan setiap 4 jam, intensitas nyeri, tingkat kesadaran.
R/  Untuk mengenal indikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan.
·         Berikan obat analgesik
R/  Klien yang dapat menilai intensitas nyeri, sebab nyeri adalah pengalaman yang subjektif. Analgesik yang kuat diperlukan untuk nyeri lebih hebat.
·         Bantu klien untuk mengambil posisi yang nyaman.
R/  Mengurangi penekanan dan mencegah otot – otot tegang, membantu menurunkan rasa tidak nyaman.
·         Berikan istirahat sampai nyeri hilang.
R/  Istirahat memerlukan pengeluaran energi, vasokonstriksi perifer terjadi nyeri yang hebat.
·         Jika diresepkan analgesik IV, aturlah analgesik secara rutin selama 24 jam pertama, tidak menunggu pasien memintanya.
R/  Mempertahankan kadar gula darah yang konsisten dari analgesik merupakan pengendali yang baik.
2)      Diagnosa Perawatan 2
Tujuan            : Infeksi dapat dicegah
Kriteria Hasil  : Meningkatkan penyembuh luka dengan benar, bebas tanpa infeksi.

Intervensi       :
·         Pantau : suhu badan tiap 4 jam, keadaan luka ketika melakukan perawatan luka. Hasil laporan JDL terutama jumlah leukosit (SDP).
R/  Mengidentifikasi adanya kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan.
·         Jika suhu meningkat hingga 368 C selama 48 jam, mulailah memperhatikan paru – paru tiap jam dan menambah intake cairan melalui mulut, jika tidak ada kontra indikasi, beritahu dokter jika suhu diatas
368 C.
R/  Suhu diatas normal dalam waktu 8 jam pertama mengidentifikasi atelektasis, oleh karenanya setiap hari ke-5 pasca operasi meningkatkan infeksi luka atau infeksi lain.
·         Ganti verban sesuai aturan dengan menggunakan teknik aseptik.
R/  Verban yang lembab merupakan media klultur untuk pertumbuhan bakteri dengan mengikuti teknik aseptik akan mengurangi resiko kontaminasi.
·         Berikan antiseptik yang ditentukan jika terdapat demam.
R/  Antiseptik memperbaiki termotik dalam otak untuk mengatasi semua.
3)      Diagnosa Keperawatan 3
Tujuan             : Klien dapat melakukan personal hygiene.
Kriteria hasil   : Mampu melaksanakan aktivitas perawatan diri secara mandiri.
Intervensi        :
·         Tentukan aktivitas bantuan yang diperlukan, berikan bantuan dengan aktivitas kerja sehari – hari sesuai keperluan membiarkan klien sebanyak mungkin untuk dirinya.
R/  Mendorong kemandirian klien untuk melaksanakan aktivitas.
·         Berikan waktu yang cukup bagi klien utnuk melaksanakan aktivitas..
R/  Membebani klien dengan aktivitas menyebabkan frustasi.
·         Menaruh bel ditempat yang mudah dijangkau.
R/  Memberikan rasa nyaman pada waktu klien membutuhkan petugas.
4)      Diagnosa Keperawatan 4
Tujuan             : Volume cairan seimbang
Kriteria hasil    : Mendemonstrasi keseimbangan cairan adekuat ditunjukkan dengan adanya tanda – tanda vital stabil.

Intervensi        :
·         Ukur dan catat pengeluaran dan masukan (termasuk pengeluaran dan masukan, termasuk pengeluaran gastrointestinal kaji ulang catatan intra koperasi).
R/  Dokumentasi yang akurat akan membantu dalam mengidentifikasi pengeluaran cairan / kebutuhan penggantian dan pilihan – pilihan yang mempengaruhi intervensi.
·         Kaji pengeluaran uvinaris, terutama untuk tipe prosedur operasi yang dilakukan..
R/  Mungkin akan terjadi penurunan ataupun penghilangan setelah prosedur pada sistem genitovinarius dan atau struktur yang berdekatan.
·         .Pantau tanda – tanda vital
R/  Hipotensi, tachicardi, peningkatan pernafasan, mengindikasikan, kekurangan cairan.
·         Kolaborasi
R/  gantikan kehilangan cairan yang telah didokumentasikan, catat waktu penggantian volume sirkulasi yang potensial bagi penurunan komplikasi, misal ketidak seimbangan elektrolit, dehidrasi, pingsan, kardiovaskuler.
·         Pasang kateter uvinarius dengan atau uvimeter sesuai kebutuhan.
R/  Memberikan mekanisme untuk memantau pengeluaran vinarius secara akurat.
·         Berikan kembali pemasukan oval secara berangsur – angsur sesuai petunjuk.
R/  Pemasukan oval tergantung kepada pengembalian fungsi gastrointestinal.

                        Implementasi
Tindakan keperawatan (implementasi) dilaksanakan sesuai dengan intervensi yang telah dibuat

                        Evaluasi
Menilai keberhasilan dari interfensi yang telah dilaksanakan



DAFTAR PUSTAKA


Dongoes, Marylin (2000), Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3, EGC, Jakarta.
Engram, Barbara (1999), Rencana Asuhan Keperawatan Medikel Bedah, Volume 1, Volume 3, EGC, Jakarta.
Mansjoer, Arif, dkk (2000), Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 2, Edisi 3 Media Auscalipus, FKUI, Jakarta.
Rothrock, Jane C (2000), Perencanaan Asuhan Keperawatan Perioperatif, EGC, Jakarta.
Soeparman, Sarwono, (1999), Ilmu Penyakit Dalam Jilid 2, Penerbit Fakultas Kedokteran UI, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar